Rangkuman B. Jawa kelas XI




Materi Bahasa Jawa Kelas XI: Aksara Jawa dan Serat Wedhatama


1. Aksara Jawa

Aksara Jawa adalah salah satu sistem penulisan tradisional Jawa yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi. Untuk kelas XI, fokusnya akan lebih mendalam, termasuk pasangan, sandhangan, dan aksara murda.

a. Pasangan Aksara Jawa

Pasangan digunakan untuk menulis suku kata tanpa vokal "a" yang didahului oleh konsonan. Fungsinya untuk menghilangkan vokal "a" pada aksara carakan sebelumnya.

  • Setiap aksara carakan memiliki pasangannya masing-masing.

  • Contoh: Untuk menulis "mangan", kita akan menulis ma diikuti nga lalu n (pasangan na yang digandengkan dengan ga). Jika ingin menulis "mangan sega", maka ga pada "mangan" akan digandengkan dengan se (pasangan sa yang diberi sandhangan taling).

  • Penerapan: Ketika ada dua konsonan berurutan tanpa vokal di antaranya (misalnya mng pada mangga), maka konsonan pertama akan dipasangi dengan konsonan kedua. Contoh: ma + ngga (pasangan ga).

b. Sandhangan (Vokal, Pungkas, Wyanjana)

Sandhangan adalah tanda vokal atau tanda baca lain yang mengubah bunyi aksara carakan.

  • Sandhangan Swara (Vokal):

    • Wulu (i): Berbentuk titik kecil di atas aksara. Contoh: ki.

    • Suku (u): Berbentuk lengkung kecil di bawah aksara. Contoh: ku.

    • Taling (è/e pepet): Berbentuk seperti huruf "e" di depan aksara. Contoh: atau ke (pepet).

    • Taling Tarung (o): Gabungan taling di depan dan tarung di belakang aksara. Contoh: ko.

    • Pepet (e): Digunakan untuk bunyi vokal "e" pepet, berbeda dengan taling.

  • Sandhangan Panyigeg Wyanjana (Penutup Konsonan):

    • Cecak (ng): Berbentuk titik tiga di atas aksara. Contoh: kang.

    • Layar (r): Berbentuk seperti "r" kecil di atas aksara. Contoh: kar.

    • Wignyan (h): Berbentuk seperti tanda seru kecil di belakang aksara. Contoh: kah.

    • Pangkon/Pamaos: Untuk mematikan huruf konsonan di akhir kata. Contoh: katok. (Aksara ka, ta, lalu ka dipangkon).

  • Sandhangan Wyanjana (Perubahan Bunyi/Ganda):

    • Cakra (ra): Berbentuk melengkung di bawah aksara. Contoh: kra.

    • Keret (re): Bentuknya mirip cakra tapi ada pepet di dalamnya. Contoh: kre.

    • Pengkal (ya): Berbentuk melengkung kecil di bawah aksara. Contoh: kya.

c. Aksara Murda

Aksara Murda adalah aksara khusus yang digunakan untuk menulis nama orang, nama tempat, atau gelar. Mirip huruf kapital dalam abjad Latin. Tidak semua aksara carakan memiliki aksara murda.

  • Contoh: Na, Ka, Ta, Sa, Pa, Ga, Ba, Nya.

  • Penggunaan: Tidak boleh semua huruf ditulis dengan aksara murda, cukup huruf pertama dari nama/gelar tersebut.

d. Angka Jawa

Angka dalam Aksara Jawa memiliki bentuk sendiri dari 1 sampai 9 dan 0.

e. Panulisan (Penulisan)

  • Ejaan: Memahami bagaimana kata-kata dalam bahasa Jawa dituliskan dalam Aksara Jawa, termasuk kata serapan.

  • Tanda Baca: Penggunaan pada lingsa (koma), pada lungsi (titik), dan tanda baca lainnya.


2. Serat Wedhatama

Serat Wedhatama adalah karya sastra Jawa klasik berbentuk tembang macapat yang ditulis oleh KGPAA Mangkunegara IV pada abad ke-19. Serat ini berisi ajaran-ajaran moral, etika, dan filsafat hidup Jawa yang luhur.

a. Latar Belakang dan Penulis

  • Penulis: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IV.

  • Waktu Penulisan: Abad ke-19 (sekitar tahun 1860-an).

  • Tujuan: Memberikan tuntunan budi pekerti luhur, etika kepemimpinan, dan spiritualitas kepada generasi muda Jawa, khususnya para bangsawan.

b. Struktur dan Tembang Macapat

Serat Wedhatama terdiri dari lima pupuh (bab) yang ditulis dalam metrum (aturan) tembang macapat yang berbeda:

  1. Pangkur: (14 pada/bait) Berisi ajaran untuk menjauhi hawa nafsu dan kesenangan duniawi yang berlebihan, serta fokus pada kesempurnaan batin.

  2. Sinom: (18 pada/bait) Berisi ajaran tentang budi pekerti yang baik, pentingnya belajar, dan pengendalian diri.

  3. Pucung: (15 pada/bait) Berisi nasihat tentang pentingnya kejujuran, menghindari kesombongan, dan pentingnya pengetahuan.

  4. Gambuh: (35 pada/bait) Mengajarkan tentang ilmu kesempurnaan (ilmu kasampurnan), spiritualitas, dan cara mencapai kebijaksanaan.

  5. Kinanthi: (18 pada/bait) Berisi ajaran tentang pentingnya ketenangan batin, menahan godaan, dan mencari kebahagiaan sejati.

  • Ciri-ciri Tembang Macapat:

    • Memiliki aturan Guru Gatra (jumlah baris dalam satu bait).

    • Memiliki aturan Guru Wilangan (jumlah suku kata dalam setiap baris).

    • Memiliki aturan Guru Lagu (huruf vokal terakhir pada setiap baris).

c. Nilai-nilai Filosofis dalam Serat Wedhatama

Serat Wedhatama mengandung ajaran piwulang luhur (ajaran luhur) yang sangat relevan hingga kini. Beberapa konsep penting yang diajarkan:

  • Pentingnya Budi Pekerti Luhur: Ajaran tentang kesopanan, kesabaran, kejujuran, dan pengendalian diri.

  • Ilmu (Ngèlmu): Tidak hanya ilmu pengetahuan formal, tetapi juga ilmu kebatinan (ngèlmu kasampurnan) dan ngèlmu kang nyata (ilmu yang hakiki). Ilmu yang sejati adalah yang dapat menuntun pada kebijaksanaan dan kebaikan.

  • Watak Utama dan Watak Tercela: Membedakan antara sifat-sifat yang patut ditiru dan dihindari.

  • Konsep Laku Prihatin: Ajaran tentang olah batin, menahan hawa nafsu, dan hidup sederhana untuk mencapai ketenangan dan kebijaksanaan.

  • Kepemimpinan: Nasihat bagi para pemimpin agar adil, bijaksana, dan mementingkan rakyat.

  • Hubungan Manusia dengan Tuhan (Sangkan Paraning Dumadi): Ajaran tentang asal-usul dan tujuan hidup manusia, serta pentingnya mendekatkan diri kepada Tuhan.

  • Sabar, Nrimo, Eling, lan Waspada: Kesabaran, menerima apa adanya, selalu ingat (kepada Tuhan dan kebaikan), serta waspada terhadap godaan.

d. Relevansi di Era Modern

Meskipun ditulis berabad-abad lalu, ajaran dalam Serat Wedhatama tetap relevan sebagai panduan etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di era modern.

Komentar

Postingan Populer